Pertama Kali Naik Go-Jek



Beberapa orang pasti akan bilang, “ah lebay deh naik Gojek aja heboh” iya nggak apa, aku memang lebay. Tapi beneran, aku antusias banget. Makanya, mau cerita-cerita bagi pengalaman ditulis disini.

Logo Go-Jek. source ; Google

 

Pertama kali dengar istilah Go-Jek pada sekitar dua tahun yang lalu, aku biasa aja. Hehe
Saya memang orangnya begitu, sedikit cuek atau lebih tepatnya apatis.

Tapi sebagian kecil dari sifatku sih, insyaAllah karakter pedulinya lebih dominan. Apalagi peduliin kamu #eh

Aku sendiri aja bertanya-tanya, kenapa pada waktu itu nggak lantas cari tau, itu apaan, ngapain, kenapa dan terus gimana tentang Go-Jek.

Ah ya mungkin karena di Lampung nggak ada ya, jadi yang sekali denger begitu ya aku anggep angin lalu aja.

Tapi semakin kesini, mau nggak mau ya bakal tau sendiri karena sponsor Go-Jek mulai rame di Instagram dan di internet.

Dan kadang, kalau lagi nonton berita, tak sengaja liat driver Go-Jek lalu lalang ke shot kamera hehe.

Ditambah, adanya tayangan Ok-Jek di salah satu stasiun televisi swasta yang bercerita tentang suka duka para driver dan manajemen Ojek Online membuat aku, yang tadinya tak tau menau jadi kepo tentang Go-Jek.

Nilai yang Go-Jek jadikan tumpuan adalah Kecepatan, Inovasi dan Dampak Sosial.
Khususnya Jakarta, kemacetan adalah lagu lama yang setiap hari bahkan nyaris setiap waktu diputar. Jadi Ojek adalah solusi bagi yang tak punya banyak waktu untuk berada di jalan.

Memesan ojek dengan hanya sekali klik, segera tau pengendara, nomor plat, tarif bahkan GPS itu adalah satu hal yang tidak mungkin jika kita berasa di beberapa tahun belakang. Selain tentunya memudahkan, ini adalah bagian dari pemanfaatan tekhnologi.

Dan Go-Jek yang merupakan start up teknologi berharap memiliki dampak sosial bagi para driver untuk lebih mudah mendapatlkan penumpang dan tentunya berimbas pada kenaikan jumlah pendapatan driver.

Sampai pada beberapa bulan yang lalu, media online maupun offline memberitakan hadirnya Go-Jek di Lampung.

Aku juga mulai antusias, mulai cari tau penggunaan aplikasi, tarif, dan mengecheck tempat makan mana saja yang sudah terdaftar di Go-food hehe.

Sayangnya, karena aplikasi Go-Jek cukup berat, dan aku tidak terlalu butuh Go-Jek karena kemana-mana bawa motor sendiri, dengan terpaksa aku hapus aplikasi dari hapeku. Tentu tidak dari hatiku #ulala.

Dan bulan-bulan berlalu, sudah banyak Go-Jek lalu-lalang di Bandar Lampung tanpa sekalipun aku pernah order. Huhu

Sampai akhirnya, ada di kondisi yang mengharuskan aku naik Go-Jek karena nggak bawa motor dan gak ada yang bisa antar/jemput.

setelah minta orderkan oleh teman, sampailah Go-Jek menjemputku.

Pada heboh ambil fotoku, Paparazzziiiii hahaha



Bagi sebagian orang, mungkin biasa dibonceng oleh lelaki yang bukan mahram. Tapi tidak denganku, asing banget. Aku sibuk berpegangan  belakang.

Syukurlah, mas Go-Jeknya nggak ngebut, dan memilih jalan yang nggak macet.

Kami mengobrol banyak hal, salah satunya tentang perkerjaan beliau. Ternyata masnya dalah sarjana UBL, memilih Go-Jek sementara menunggu panggilan lamaran.

Sejak lulus kuliah, beliau sudah banyak melamar di perusahaan, bahkan mencoba membuka usaha. Tapi berkali itu juga tidak berhasil, dengan kendala yang berbeda

Hmm.. cari kerja memang susah ya mas?

Cap Cis Cuss!

Begitulah, ada banyak hal yang tak sesuai dengan apa yang kita mau. Yang perlu kita lakukan hanyalah melakukan yang terbaik. Dan yang dikatakan sebagai ‘Yang Terbaik” adalah ketika benar-benar mengoptimalkan apa yang kita bisa lakukan sesuai tempatnya.

Usaha optimal itu tetaplah relatif, yang menentukan kadarnya adalah kita sendiri. itulah, back to our self dan dont judge is the key 

Akhir ceritaaa, sampailah aku dirumah dalam keadaan yang berbahagia dan selamat sentosa. Yay! Ongkosnya Cuma Rp.7000,- dari Pajajaran ke Gunung Terang. Muraaah-Meriah-Aman!

Comments

Popular posts from this blog