Bapakku, pada 5 Jumadil Akhir 1938 H

Bapak,

Setiap kita tentu punya kacamata tersendiri dalam melihat seorang bapak.
Dan bagiku, --yang penuh penyesalan karena tak mengenal bapak dengan baik—

Bapak adalah seorang yang pendiam, beliau juga sering ku artikan sebagai orang lugu dan berkepribadian sederhana.

Sebagai orang yang memiliki wajah teduh menenangkan bapak sangat tak cocok dengan wajah garang dan marah. Tak banyak ingatanku tentang bapak yang sedang marah.

Bapakku orang yang unik, pemilik canda yang kering. Aku sering pura-pura tertawa supaya candaanya terlihat berhasil.

Beliau adalah pemilik mimpi yang sunyi. Terlihat tak memiliki banyak keinginan. Namun berbinar matanya jika membicarakan Mushala yang beliau bangun kini banyak jamaahnya.

Seperti Bapak di seluruh belahan dunia, Bapak juga adalah orang yang memberi segala yang dipunya untuk anaknya. Yang akan menaruh tubuhnya di barisan terdepan atas segala resiko yang dipertaruhkan anaknya.

Apa? Kau ingin mengenal Bapak? Ingin juga bersandiwara tertawa pada humornya yang garing? Ingin dengar cerita tentang kambing-kambingnya yang beranak pinak tak berkesudahan?

Sayang sekali, hari ini tepat dua tahun dimana aku sendiri terakhir melihatnya.

Dua tahun yang lalu aku memotong kukunya di meja pemandian mayat, menyiramkan air di sekujur tubuhnya, memakaikan 3 helai kain padanya, shalat untuknya, mengantarkannya pada tempat istirahat terakhir kalinya.

Dengan segenap kekurangan serta dosa-dosa yang manusia tak ada yang luput dari itu, aku berazzam tak akan menambah bebannya ketika menghadap Allah. Harus menjadi shaliha. Karena bapak, adalah lelaki yang turut menanggung dosa yang aku perbuat. 

Aku dan Bapak

Seperti yang aku katakan di awal, aku tak mengenal bapakku dengan baik sebagaimana seharusnya.
Huft, kalau mengingatnya aku jadi sedih dan ingin menyalahkan keadaan yang membuat aku terpisah dengan bapak karena keluarga kami broken home.

Bapak dan Mamak bercerai ketika aku kelas Dua Sekolah Dasar. Meski keadaan demikian, bukan berarti aku tidak pernah bertemu dengan Bapak. No Way. Kami sering bertemu, meski Bapak sempat tinggal di Bukit Kemuning bersama istrinya namun beberapa tahun terakhir Mamasku berhasil mengajak Bapak tinggal di Liwa agar kami bisa lebih sering berkunjung.

Namun, karena aku bersekolah di Kota Metro dan tinggal di asrama kemudian melanjutkan kuliah di Bandarlampung, membuat aku semakin jarang mengobrol. Sampai akhirnya bapak tumbang, sakit.
Bapak sakit stroke, penyakit yang juga diderita Mamak lebih dahulu. Hem, mereka kompak -_-

Karena Stroke, Bapak mengalami kelumpuhan di tubuh bagian kiri. Namun syukur masih bisa jalan malah sedikit menyeret kaki kirinya. Tangan kirinya juga kaku, lidahnya kelu susah bicara, untunglah bapak masih bisa makan dengan baik.

Sebagai muslimah, aku juga diajarkan untuk berprasangka baik pada Allah. Meski sulit sekali awalnya. Bayangkan, kami merawat Mamak yang stroke, syaraf terjepit, asam urat, sekaligus. Bapak yang kami kenal penyabar dan bukan tipikal pemikir keras juga tiba-tiba terkena stroke membuat kami shock.

Namun itulah, Mas Hasan, Mamasku yang Sulung pernah bilang, “Sakit itu kadang bisa Adzab bisa juga Ujian. Kalau ini Adzab karena dosa-dosa yang diperbuat Bapak dan Mamak ketika sehat, semoga seluruh rasa sakitnya bisa menggugurkan dosa-dosa beliau. Tapi jika ini adalah Ujian maka, semoga dengan sakit ini pula menjadikan kita semua semakin dekat dan merendahkan diri meminta sama Gusti Allah”

"Jadikan peluang bagi kita, untuk mengabdi sama Bapak dan Mamak di saat seperti ini. Buktikan bakti dan sayang kita pada Mamak dan Bapak"

Begitu kira-kira, Mas Hasan mengatakannya dengan bahasa Jawa, semoga aku tidak salah mengartikan.

Alhamdulillah, aku juga menemukan hikmah. Jadi punya quality time sama Bapak yang di rawat di rumah Mbak Fitri, karena kebetulan suaminya (kakak iparku) adalah seorang perawat, Bapak kami rawat dirumah dengan dibawah pengawasan beliau.

Quality Time yang aku syukuri sampai kini. Aku punya kesempatan membantu bapak mandi, membantunya menyikat gigi, menyiapkan bajunya, menyisir rambutnya, menggosok punggungnya, menyuapinya, memakaikan sendal untuknya, mengajarkan Al Fatihah (yang sejak sakit, Bapak jadi susah melafalkan bacaan shalat), membantunya wudhu and many more.

Aku bahkan baru tau kalau Bapak sangat suka Pisang Goreng. Suka suka suka. Bapak kadang susah makan, padahal aku sudah siapkan khusus makanan Bapak karena banyak pantangan dan kami prioritaskan sayuran sehat. Tapi, Pisang Goreng Bapak suka banget. Dan ternyata Ibu (istri baru bapak aka ibu tiri) bilang kalau Bapak emang suka Pisang Goreng.

Aku sedih, anak macam apa yang tak tahu sama sekali?
Tapi sudahlah, aku harus tetap bersyukur bahkan Allah kasih kesempatan untuk tahu dari pada tidak J

Sampai akhirnya, Allah memanggil Bapak tepat 5 Jumadil Akhir 1938 H (Fyi. Tulisan di post 6 Jumadil, aku telat post -_-)

Di Rumah Sakit Umum Daerah Liwa, Lampung Barat. Pada suatu malam yang dingin, namun terasa hangat karena kami saling memeluk dan menangis.

InsyaAllah kami mengikhlaskan kepergian Bapak, meski dengan berjuta rasa bersalah karena belum banyak mempersembahkan bakti pada Bapak.

kami ; Bani Dimyati 

Beberapa bulan setelah Bapak meninggal, Mamasku, Mas Asis menikah. Momen langka bisa berkumpul full team selain Lebaran. Alhamdulillah.

Ps : sebenernya pengen post foto Bapak, tapi kumpulan foto beliau ada di Notebook jadulku yang hilang digondol maling.

Bapakku, Dimyati Bin Isnab.

Allahummaghfir Lahu Warhamhu Wa ‘Aafihi Wa’fu ‘Anhu Wa Akrim Nuzulahu Wa Wassi’ Mudkhalahu Waghsilhu Bilmaa`I Wats Tsalji Wal Baradi Wa Naqqihi Minal Khathaayaa Kamaa Naqqaitats Tsaubal Abyadla Minad Danasi Wa Abdilhu Daaran Khairan Min Daarihi Wa Ahlan Khairan Min Ahlihi Wa Zaujan Khairan Min Zaujihi Wa Adkhilhul Jannata Wa A’idzhu Min ‘Adzaabil Qabri Au Min ‘Adzaabin Naar

Al Fathihah.

Comments

  1. Allah sudah semburan penyakitnya.. Dan mengajak ya pulang untuk istirahat di syurga Nya.. Aamiin

    ReplyDelete
  2. ada banyak kenangan yang tersimpan ya mbak... mengikuti cerita mbak.. saya jadi ingat bapak saya...thanks for sharing

    ReplyDelete
  3. Apakah aku firs comment. I know what u feel. Salut sekali Novi anak perempuan yang sangat tegar. Semoga bapakmu ditempatkan di tempat terbaik Allah di surga sana ya. Curcol dikit, Ibuku juga pernah stroke. Dan aku kudu banyak2 PP balam tanggamus, biar punya banyak waktu dengan beliau waktu semester pertengahan dulu. Alhamdulillah beliau sekarang perlahan2 mulai membaik. Meski tidak seratus persen sembuh.

    ReplyDelete
  4. Semangat mb Novi, semoga Bapak khusnul khotimah ya, Aamiin ya Rabb

    ReplyDelete
  5. Baca tulisan ini jadi teringat bapakku.udh lmeninggl sejak ku kelas lima SD

    ReplyDelete
  6. Allahumaghfirlahu warhamhu wa afihi wa'fuanhu. Moga ayahandanya husnul khotimah ya mbak. Saya juga kehilangan banget sama bapak. Kenangannya banyak banget. Sampe suka saya bandingin sama pak suami. Tak tertandingkan.

    ReplyDelete
  7. Ya Allah, baca ini berebes Mili, ingat Ayah yang tidak banyak juga aku bersamanya, Alhamdulillah bisa mengenal dalam waktu singkat karena Ayah tugas daerah. Ayah meninggal saat aku kelas 6 SD.

    ReplyDelete
  8. Wah.. baca tulisan ini aku jadi terharu ya, bersyukurnya aku masih bisa menikmati hari-hari bersama bapakku...

    ReplyDelete
  9. Terenyuh aku bacanya Pi.. ingat papahku yang juga bukan tipikal laki-laki yang banyak bicara. Komunikasi antara kami seringgkali ala kadarnya. Aku belajar banyak dari tulisan ini.. Aku gak mau suatu saat, naudzubillah, aku menyesal karena belum melakukan bakti yang seharusnya sebagai seorang anak..

    ReplyDelete
  10. hik jadi ingat almarhum abah yang juga meninggal 3 tahun lalu setelah sakit lumayan lama. rasa-rasanya dulu itu kurang banget berbaktinya sama abah yang lagi sakit karena suka marah-marah :(

    ReplyDelete
  11. Sebagai seseorang yang masih diberikan kesempatan maka berbaktilah pada orang tua, jika orang tua sudah bersama-Nya maka tetap doakan yang terbaik untuk beliau

    ReplyDelete
  12. semangat mb nov.. insya allah bapak mb sdh ditempat terbaik.. sekarang hanya bisa berusaha saja menjadi anak yg sholihah agar bapak bisa berjumpa di syurga..

    ReplyDelete
  13. Meleleh, semoga husnul khotimah

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Nonton Bunda Cinta Dua Kodi, Film Keluarga yang Bikin Nangis Haru