Lingkaran Setan Sanitasi Buruk Kampung Harapan, Panjang Selatan

“Orang-orang sini memang suka BAB disitu mbak, sambil lihat pemandangan laut” Kata Pak Suwito  (50th) saat ditanyai soal bilik-bilik yang berjajar dipinggir laut.



Sementara, Pak Radi (64th) mengaku hanya memiliki kamar mandi namun tanpa kloset apalagi septic tank. “Ya kalau mau BAB, pergi ke laut, mau siang atau malam. Airnya bawa dari rumah, itu dapat dari beli” lanjutnya.




Memang, di daerah pemukiman Kampung Teluk Harapan, Panjang Selatan umumnya orang-orang membeli air untuk kebutuhan sehari-hari. Masih berdasarkan info Pak Radi, air dihargai Rp.20000,- untuk 14 derigen besar yang diantar menggunakan gerobak. Keluarga Pak Radi sendiri mampu menghabiskan air sebanyak itu dalam dua hari. Yang artinya, dalam satu bulan keluarga Pak Radi mengeluarkan biaya sebanyak Rp.300.000,- untuk air yang digunakan MCK sehari-hari. Angka yang cukup waw bagi seorang buruh lepas yang nyaris pengangguran seperti Pak Radi.

Hal itu juga dialami oleh keluarga Ibu Ira (49th) yang harus pergi ke laut untuk menyelesaikan hajat besarnya itu. Begitu pula dana yang harus ditanggung untuk membeli air untuk kebutuhan sehari-hari termasuk MCK.

Sedikit berbeda dengan yang dialami dengan Bu Ira dan Pak Radi, kondisi tempat pembuangan limbah manusia Pak Santo (46th) cukup menarik. Rumah yang mereka tinggali memang separuhnya berada tepat diatas air dan separuhnya lagi diatas tanah yang sebenarnya merupakan tumpukan sampah yang memadat karena banyaknya sampah yang terus diproduksi penduduk sekitar.




Dengan kondisi tersebut Pak Santo tetap mencari cara untuk membuang hajat dengan sedikit layak, yaitu membuat kakus dalam rumah lengkap dengan kloset, namun mengarahkan tinja langsung ke laut. Soal air, ya sama saja Pak Santo tetap harus menganggarkan dana untuk membeli air sebagai kebutuhan primer.

Kondisi yang banyak dialami oleh penduduk Kampung Harapan memang tidaklah menyeluruh. Beberapa warga sudah banyak memiliki kloset, dan membuat septic tank di dalam rumah mereka karena keterbatasan lahan. Termasuk soal air sebagian warga sudah banyak yang membuat sumur bor untuk memenuhi kebutuhan air. namun, karena biaya yang dibutuhkan tidak sedikit, dan sifatnya kontan masih banyak rumah yang tetap memakai jasa jual beli air untuk kebutuhan sehari-hari.


Keterkaitan air dan sanitasi bagaikan dua sisi mata uang. Sifatnya pasti. Dan bagaimanapun hidup yang dijalani oleh setiap orang, tak akan lepas dari kedua hal yang tak dapat terpisahkan tersebut.
Sementara, memaksakan keadaan yang seadanya untuk dijalani dalam kurun waktu yang panjang tanpa solusi yang jelas tentu akan menimbulkan masalah lebih banyak lagi. Salah satunya adalah masalah kesehatan.

Adalah harga mati ketika Bambang Pujiatmoko, dalam workhop terkait dengan Sanitasi (25/8) di Hotel Batiqa, mengatakan bahwa Tinja adakah sumber penyakit, dan jika demikian maka membuang tinja sembarangan adalah tindakan yang dzalim!

Tinja atau kotoran manusia merupakan media sebagai tempat berkembang dan berinduknya bibit penyakit menular (misal kuman/bakteri, virus dan cacing). Apabila tinja tersebut dibuang di sembarang tempat, maka bibit penyakit tersebut akan menyebar luas ke lingkungan, dan akhirnya akan masuk dalam tubuh manusia, dan berisiko menimbulkan penyakit pada seseorang dan bahkan bahkan menjadi wabah penyakit pada masyarakat yang lebih luas.

Fakta yang mencengangkan juga datang dari Kementrian Pekerjaan Umum & Perumahan Rakyat, 2017 & Bappenas, 2010 bahwa ;

Terdapat 14.000 ton tinja per hari yang mencemari badan air.
75% sungai yang ada di Indonesia tercemar
70% air tanah di Indonesia tercemar
50 dari 1000 kelahiran meninggal karena diare
Potensi kerugian mencapai Rp 1,2 juta /kapita/tahun

Menurut data di Aplikasi STMB Smart yang dikeluarkan oleh Kementrian Kesehatan, sebanyak dari 2825 KK di Kelurahan Panjang Selatan, 1368 KK memiliki Jamban Sehat Permanen dan 990 KK memiliki Jamban Sehat Semi Permanen, sementara 161 lainnya masih menumpang pada tetangga, dan sisanya sebanyak 306 KK melakukan BABS.

Meskipun angka tersebut bahkan kurang dari seperempat penduduk, namun angka tersebut tetaplah angka yang bisa menyumbangkan berbagai penyakit yang kemudian bersarang didaerah pesisir.

Lingkaran Setan Sanitasi Buruk Perkotaan


Suherman (50th) lurah Panjang Selatan ketika ditemui di kantornya, juga melihat bahwa persoalan sanitasi memang menjadi masalah bagi banyak masyarakatnya, dan persoalan ekonomi lagi-lagi menjadi alasan “Mereka bukan nggak mau punya MCK layak, namun karena keterbatasan dana. Jadi, memilih untuk tetap BAB ke laut” ujarnya

Sementara seperti yang dilansir dari detik.com WHO pernah menyatakan bahwa Perbaikan Sanitasi adalah salah satu kunci pengetasan kemiskinan itu sendiri. Maka ini mejadi sebuah hal rumit, kan? Ibarat pertanyaan, Ayam atau telur yang lebih dulu ada? Miskin atau Sanitasi Buruk?



Satu lagi yang tak kalah menarik, kenyataan di lapangan banyak keluarga yang memiliki fasilitas sepeda motor, gawai, dan barang elektronik tapi tidak memiliki tampat MCK yang layak? Itu yang kemudian membuat kita telisik lagi. Bisa jadi memang tidak ada niat yang serius dan motivasi yang tinggi bagi kebanyakan keluarga di Kampung Harapan untuk memiliki MCK yang layak.

Keterbelakangan latar belakang pendidikan sangat bisa menjadi soal mendasar. Ketidaktahuan akan bahaya yag diam-diam mengancam membuat masyarakat Kampung Harapan tidak bergerak dari zona yang dianggap nyaman tersebut.

Persoalan ekonomi akan menjadi alasan terdepan terkait dengan ketertinggalan pendidikan. Lalu kemiskinan dan Sanitasi buruk yang entah siapa yang lebih dulu menjadi soal.

Memutus Mata Rantai Sanitasi Buruk

Persoalan Sanitasi Perkotaan memang sudah layaknya menjadi agenda bersama. Keberhasilan SNV Lampung dalam mengintervensi permasalahan Sanitasi di Kabupaten Pringsewu sehingga saat ini menjadi daerah percontohan Kabupaten ODF Pertama di Sumatera menjadi prestasi yang patut dicontoh semua kalangan.

Karena toh, keberhasilan tersebut melibatkan banyak pihak di dalamnya. Baik instansi pemerintah, media, bahkan seluruh lapisan masyarakat sama-sama mendukung gerakan ini.

Maka seharusnya ini menjadi motivasi bagi kita, karena sekecil apapun peluang untuk berubah tetaplah sebuah peluang yang patut dicoba. Selayaknya, seluruh pihak mengambil peran dalam agenda perubahan ini, media yang memiliki banyak akses dan berada di tengah antara pemerintah, LSM dan masyarakat sangat bisa menjadi penyambung lidah keresahan yang dirasakan masyarakat.

Demikian juga dengan pengusaha, dapat kiranya melihat persoalan ini sebagai peluang untuk mengagendakan kegiatan sosial perusahaan. Pemerintah juga sudah sewajarnya, mewajibkan diri untuk fokus pada Sanitasi Buruk yang merupakan kubangan masalah di tengah kota.

Dan yang terpenting, masyarakat Kampung Harapan yang sangat perlu diberi pengetahuan tentang bahaya yang mengancam karena Sanitasi yang Buruk.

Bagi saya secara pribadi, ini adalah kali kedua saya mengunjungi daerah pesisir Panjang Selatan dengan agenda yang berbeda. Dan setiap kali datang kesini dan memperhatikan penduduk sekitar saya diingatkan pidato Pak Anies Baswedan di hadapan juru kampanyenya ketika beliau mencalonkan diri menjadi Gubernur Jakarta. Terlepas saat kampanye politik, beliau berkata

“...Karena agenda politik, yang mengharuskan saya mengenal lebih jauh warga Jakarta, saya kemudian memikirkan satu hal dan saya perbandingkan dengan yang saya temui jauh sebelum sekarang. Begini, saya sudah sangat sering ke pelosok daerah di Indonesia. Dari yang ekonominya terbelakang bahkan sampai daerah terjauh di Indonesia yang bahkan tidak terlihat di peta. Lalu belakangan ini, saya turun ke daerah Jakarta. Dan perbedaan kontras saya lihat, masyarakat dan anak-anak daerah meskipun ekonomi terbelakang, akses pendidikan kesehatan tertinggal namun masih sangat mungkin mendapat air yang bersih langsung dari sumbernya, udara yang segar dengan banyak pepohonan, buah dan sayur segar tanaman sendiri. Dan bedanya dengan masyarakat perkotaan yang meski akses terhadap pendidikan dan kesehatan mudah namun belum tentu mudah mengingat ekonomi mereka, belum lagi mereka jauh dari air bersih, udara kotor penuh polusi. Dan keadaan tersebut berada di tengah orang-orang kaya. Kesenjangan sangat mencolok di Jakarta....”

Amel (9th) asyik mencari mainan dari tumpukan sampah.

Sebagai anak daerah yang pernah merasakan udara segar pegunungan, mendapat air bersih langsung dari sumber mata air, bahkan menghirup wangi bunga kopi setiap menjelang musim, menikmati buah dan sayur segar yang kami tanam, saya tersentuh sekali mendengarnya.

Berpose bersama anak bangsa penuh potensi

Lalu kemudian melihat persoalan Sanitasi Kampung Harapan yang sangat timpang rasanya jika masalah demikian masih terjadi di Kota Bandarlampung, terlebih di era yang demikian maju. dimana Lampung, dengan sejuta potensi diharapkan memiliki potensi Sumber Daya Manusia yang tidak kalah dengan SDA yang melimpah.

Patutnya kita optimis, karena perubahan adalah keniscayaan. Selama kita memastikan bahwa Sanitasi Buruk perkotaan Tanggung Jawab Bersama!



Comments

  1. Kok miris y melihatnya.. Lalu bagaimana masa depan anak2 disana ya ? Dengan kondisi seperti itu bisa jadi kesehatan mereka kurang terjamin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya nih aku baper kalo menyangkut anak-ank. Hidup mereka masih panjang sementara masalah kesehatan mengancam. Belum lagi mikirin pendidikan dan kelayakan lingkungan

      Delete
  2. Duh, mana itu lokasinya di tepi laut, potensi menyebar kuman dan penyakitnya lebih besar. Karena selain sanitasi yang buruk, mereka juga harus melawan sampah yang dibuang sembarangan. Semoga ke depannya ada solusi baik dari pemerintah maupun swadaya masyarakat. Amin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiiin. harus banget lho kayaknya pemerintah meniru negara maju soal pengelolaan sampah dan tinja. walau pasti makan biaya yang banyakkkk.

      Delete
  3. Gak tau, bingung harus bilang apa lagi tentang sampah Mba, gak betah nih mata dan hidung, bahkan meski kulihat hanya sebatas foto. Perihal sanitasi kaya gini sangat amat penting digalakkan. Masalah MCK yang masih dianggap sepele pun perlu banget pembinaan secara bersambung. Kesadaran di diri masing-masing sih memang yang masih menjadi kendala. Padahal sehat itu mahal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah itu, pembinaan itu yang kurang makanya mereka ndak sadar kalau itu bahaya. yo ayo yang aktivis sosial, bisa banget kalau mau adakan sharing soal bahaya sanitasi buruk ke daerah ini

      Delete
  4. Good job nov. Itu ada beberapa typo dan kode html yg salah sepertinya. Soalnya kodingnya muncul begitu hehe.

    Next semoga banyak pihak terkait yang bisa turut mengulurkan tabgan kepada yang membutuhkan ya. Sebab emang masalah sanitasi ini kan idealnya tanggung jawab bersama

    ReplyDelete
    Replies
    1. hooh,. amiiin semoga semua pihak yang ngerasa punya power mau ngeluarin powernya ke masalah ini.

      Delete
  5. sebagai warga lampung yang wara wiri dari kalianda ke bandar lampung, beberapa kali berpapasan dengan tukang jerigen jual air, sejak dari kecil daerah Panjang begitu padat penduduk. pabrik-pabrik yang dengan leluasa membuang limbah ke laut, serta sangat berdampak bagi penduduk yang menetap disana, ataupun hanya numpang lewat seperti saya. mudah-mudahan dengan tulisan ini kita dapat menggerakkan warga Lampung dan Pemerintah, untuk terbuka matanya melihat fenomena yang miris seperti ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbaaa, itu dampak jangka panjang dan terus membesar bahayanya. macam bola salju. lama membesar imbasnya meluas. hiks

      Delete
  6. Ini juga yang menjadi salah satu latar belakang aku buka bimbel di daerah pesisir. Aku pengen dekat sama anak-anak sana, berinteraksi langsung dan berkelanjutan. Aku pengen lihat pribadi mereka satu persatu. Dan secara 'terselubung' memberi motivasi, harapan dan pandangan baru tentang kehidupan di daerah mereka.

    Semoga saja anak-anak itu mendapat pendidikan yg maksimal sehingga mereka bisa menjadi penggerak perubahan yang jauh lebih baik, salah satunya masalah sanitasi, aaamiiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. keren desss. langkah kongkrit. kamu udah membuktikan dengan gerakan perubahan yangnyata. pelan-pelan ya desss semoga bisa kasih perubahan melalui kemajuan sudut pandangn dan pola berfikir anak-anak soal dunia. terus memotivasi dan menginspirasi kaka desy kesayangan kita semua :)

      Delete
  7. Setuju, ini tanggungjawab bersama, bukan tanggung jawab pemerintah atau segelintir orang saja. Semoga buruknya sanitasi dan permasalahan lainnya dapat teratasi, ya. Cepat atau lambat. Kalau bisa secepatnya. Karena, kasihan pula laut kita. Kasihan pula masyarakatnya. Kasihan anak-anaknya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyakkk segera ya pokoknya. Kudu dicatat sebagai masalah prioritas

      Delete
  8. Ya ampun. Betapa penting nya hal ini diketahui banyak orang. Apalagi di pelosok kadang banyak yg masih menggampangkan hal ini. Hiks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hiks iya mbaaaa.. Jangan kan org lain, dulu aku sendiri ga terlalu ngerasa soal sanitasi adl soal yg serius. Ternyata e ternyata efeknya domino

      Delete
  9. Sebuah PR dari semua lini dan stakeholder bukan hanya dari peran pemerintah tapi juga kesadaran warganya. Semoga gak menjadi PR di tahun berikutnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiin semoga selesai di tahun ini. ikan sepat ikan gabus, uyee!

      Delete
  10. Permasalahan ini hamoir terjadi di semua daerah perkotaan, kurangnya kesadaran hingga dengan keadaan kemiskinan. Mau sampai kapan begini terus?

    ReplyDelete
    Replies
    1. tagline Ayo Berubah kudu lebih ngena di hati kita semua

      Delete
  11. Dari judulnya sudah menohok banget ini.
    Warga disana harusnya diberi pengertian ttg bahaya2 yg mengancam dg budaya mereka seperti itu dari pemerintah
    Diberi solusi dan dibantu jadi lebih baik. Kalau merasa diperhatikan pasti juga akan berubah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbaaa, mereka kudu "ngerti" kalo itu bahaya. kalo dah ngerti tapi nga mau berubah, hiks itu baru bahaya paket dobel

      Delete
  12. Sedih banget lihatnya, toiletnya berpemandangan lautan! Jadi ingat zaman SD, rumah Tante bagus tapi ngga ada toiletnya dan pup pun di tepi tanggul huhu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba kupun pernah nemuin yang lebih prioritas bangun hal2 sekunder, bukannya ngeduluin yang primer.

      Delete
  13. Melihat yang seperti ini rasanya miris. Tetapi semuanya sebenarnya tergantung pada kesadaran apakah mau menjalani hidup bersih dan nyaman atau tetap seperti itu

    ReplyDelete
  14. Perlu ada yang segera bertindak. Dan mengajak partisipasi masyarakat untuk jaga lingkungan

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaaa mari kita semua bertindak sesuai peranan masing-masing. semua gerak pasti bisa karena sanitasi aman tanggung jawab bersama

      Delete
  15. Miris banget ya, ada yang beginian di Bandar Lampung, harus ada kerjasama dengan dinas terkait ya agar sanitasi buruk tidak ada lagi

    ReplyDelete
  16. Halo Novi salam kenal... kegiatan apa Nov di kampung harapan? Miris ya lihatnya... semoga cepat ada perubahan dan kesadaran mendalam dari warga setempat.. karna barang2 yang masuk kategori kebutuhan tersier aja mrk penuhi, masa untuk kesehatan ga mengutamakan

    ReplyDelete
  17. Jadi pengen kesana mb, BTW itu dari pusat kota berapa jam yak. Ada transportasi kah dari Rajabsa ke lokasi tersebut

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog